Kamis, 17 Februari 2011

Sejarah Singkat Pondok Batu Lubuklinggau



Legenda Pondok Batu atau Gua Batu yaitu, menurut cerita rakyat setempat konon cinde lere yang bila diartikan adalah cindo (keindahan/kecintaan) sedangkan lere (berdewa). cinde lere merupakan sebuah perkampungan tua yang bernama selidang papan. di awal - awalnya para penjege kampung ini tidak pernah mengenal mati (meningal dunia). namun di antara mereka menemukan benda yang mengapung di sungai kelingi dan setelah mereka melihat benda yang mengapung tak bernyawa ini adalah jenis dari mereka sendiri (mayat). hal ini berulang kali terjadi, sehingga para Penjege Cinde Lere berminat untuk menghindarkan diri. dahulu masyarakat selalu menggantungkan hidup dengan alam sehinga aliran sungai selalu menjadi tempat pilihan bagi mereka, lalu para penjege morot (berpindah) ke daerah yang beraliran sungai yaitu daerah sungai luar.
Di daerah sungai luar mereka memulai peradaban baru, disinilah penjege menemukan pondok batu sebagai tempat tinggal. suatu hal yang menarik, penjege yaitu tuan sekedup bumi yang bergelar tuan mangedun mandi api memiliki keistimewaan beliau adalah seorang pemuka kaumnya pada saat itu, dan menurut cerita nama yang digelarkan kepada beliau dikarenakan beliau mandi di dalam api yang sedang menyala. dan pada masa akhir Peradaban Pondok Batu adalah ketika penjege silam (menghilang) dan kini tinggalah ciri - ciri silam yang dikeramatkan.
Pondok batu dalam peninggalan zaman prasejarah ini pada saat Perang Dunia II disaat indonesia dijajah oleh belanda selama 3,5 abad dilanjutkan dengan penjajahan Jepang 3,5 tahun kemudian pasukan Jepang harus menyerah kepada Sekutu dikerenakan Nagasaki dan Hirosima di bom bardir oleh sekutu setelah itu Belanda memanfaatkan kekalahan Jepang dan mereka kembali masuk ke Indonesia. pada saat itu Lubuklinggau merupakan salah satu daerah kolonial, Pondok Batu sering dimanfaatkan sebagai tempat persembuyian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atau yang lebih di kenal sebagai tentara tikus. Strategi yang sering digunakan tentara tikus adalah menyerang kemudian mengamankan diri, sebuah penyerangan yang taktis pada saat itu dengan segala keterbatasan persenjataan serta jumlah tentara keamanan rakyat.

Menurut sumbernya menjelaskan yaitu bapak Syeh Saman yang merupakan mantan pejuang tentara keamanan rakyat yang kini berusia ± 1 abad menjelaskan Pondok Batu merupakan tempat yang luar biasa sebuah pengalaman yang luar biasa, strategi yang digunakan sangatlah di dukung oleh keberadaan Pondok Batu, mereka menyerang kemudian bersembunyi di Pondok Batu untuk mengamankan diri. pada suatu ketika mereka diserang di pondok batu butiran peluru begitu banyak keluar dari senjata tentara Belanda yang diberondongkan kearah mereka namun sebuah keanehan begitu kuat mereka rasakan tak satupun dari mereka terluka. dengan jumlah tentara Belanda yang cukup besar dan tentara keamanan rakyat yang sangat sedikit, secara taktis sangat tidak memungkinkan jikalau mereka harus bertahan di Pondok Batu. sehingga di bawah Pmpinan Komandan kepala TKR Bapak Santoso dan Letnan Bambang memberikan perintah untuk keluar dari Pondok Batu dan mengambil inisiatif menuju kearah hulu sungai yaitu Daerah Sindang Beliti.

Tidak ada komentar:

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini